lemondial-business-school

Turbulensi IHSG: Dampak Penurunan Nilai Aset Keuangan dan Tantangan Konservatisme Akuntansi

Kamis, 29 Januari 2026 | 16:55 WIB




Penurunan Nilai Aset Keuangan dan Tantangan Konservatisme Akuntansi

Penulis: Laurensius Reinald Diansilves Due, S.Pd., M.Pd.

JAKARTA- Pasar modal Indonesia sedang berada dalam fase volatilitas ekstrem. Pada perdagangan sesi I hari ini, Kamis (29/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tajam sebesar 5,58% ke level 7.856,15. Data menunjukkan indeks bahkan sempat menyentuh level terendah harian di 7.481,99 dengan volume transaksi masif mencapai 31,18 Triliun. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi angka, melainkan ujian nyata bagi sistem pertahanan ekonomi nasional serta integritas pelaporan keuangan emiten.

Sinyal Pasar dan Relevansi Nilai Wajar

Secara akademik, penurunan drastis ini dapat dijelaskan melalui Teori Sinyal (Signalling Theory). Sinyal negatif dari pasar memaksa entitas untuk memberikan pengungkapan yang lebih transparan guna memitigasi asimetri informasi (Spence, 1973). Bagi emiten dan investor, turbulensi ini berdampak langsung pada implementasi PSAK 68 (IFRS 13) mengenai Pengukuran Nilai Wajar.

Penurunan indeks ke level 7.768,37 menuntut penyesuaian nilai aset keuangan Level 1 secara instan melalui mekanisme mark-to-market. Hal ini sejalan dengan pandangan Barth et al. (2001) bahwa dalam kondisi krisis, Relevansi Nilai (Value Relevance) dari informasi akuntansi menjadi sangat volatil, di mana nilai buku aset pada neraca harus segera mencerminkan realitas pasar agar tetap relevan bagi pengambil kebijakan.

Konservatisme: Benteng Pertahanan Ekonomi Masyarakat

Di tengah kepanikan pasar, prinsip Konservatisme Akuntansi (kehati-hatian) muncul sebagai instrumen pertahanan tingkat mikro. Watts (2003) berargumen bahwa konservatisme berfungsi sebagai mekanisme tata kelola untuk membatasi perilaku oportunistik manajemen dalam menunda pengakuan kerugian.

Bagi masyarakat dan mahasiswa, tantangan ini dapat diadopsi dalam "Akuntansi Rumah Tangga". Penurunan IHSG hari ini adalah alarm untuk segera melakukan pengujian penurunan nilai (impairment) terhadap ekspektasi pendapatan masa depan. Dengan mengakui potensi risiko lebih awal (prinsip prudent), individu dapat membangun bantalan likuiditas yang lebih kuat. Sistem pertahanan ini mirip dengan mekanisme trading halt pada bursa yang bertujuan memberikan ruang bagi pelaku ekonomi untuk berpikir rasional di tengah tekanan sebesar -6,64%.

Resiliensi Melalui Literasi Keuangan

Secara makro, sistem pertahanan keuangan Indonesia telah mengaktifkan protokol stabilitas melalui koordinasi otoritas bursa. Namun, secara mikro, resiliensi ekonomi ke depan bergantung pada kemampuan masyarakat dalam memahami instrumen Akuntansi Lindung Nilai (Hedge Accounting) secara sederhana, yakni melalui diversifikasi aset untuk meredam guncangan pada ekuitas pribadi.

Anjloknya IHSG hari ini adalah pelajaran berharga bahwa laporan keuangan yang transparan dan sikap konservatif dalam mengelola kas adalah kunci untuk bertahan. Bagi mahasiswa, fenomena ini menegaskan bahwa akuntansi bukan sekadar seni mencatat, melainkan sains yang menjaga stabilitas ekonomi melalui kejujuran informasi di tengah badai ketidakpastian.

Daftar Pustaka

Barth, M. E., Beaver, W. H., & Landsman, W. R. (2001). The Relevance of the Value Relevance Literature for Financial Accounting Standard Setting: Another View. Journal of Accounting and Economics, 31(1-3), 77-104.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan.

Spence, M. (1973). Job Market Signaling. The Quarterly Journal of Economics, 87(3), 355-374.

Watts, R. L. (2003). Conservatism in Accounting Part I: Explanations and Implications. Accounting Horizons, 17(3), 207-221.