Ramadhan dan Doomscrolling Belajar Menahan di Tengah Banjir Informasi
Senin, 02 Maret 2026 | 10:50 WIB
Oleh : Milawati, S.Pd., M.Si (Han)
Di era media sosial, arus informasi tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap hari linimasa dipenuhi kabar tentang krisis global, konflik internasional, ketidakpastian ekonomi, dan berbagai isu yang bernada ancaman. Tanpa sadar, banyak dari kita terjebak dalam kebiasaan yang disebut doomscrolling, yaitu perilaku menggulir media sosial secara terus-menerus untuk mengonsumsi berita negatif meskipun informasi tersebut memicu kecemasan.
Awalnya terasa wajar. Kita ingin tahu. Kita ingin merasa terinformasi. Namun setelah beberapa waktu, yang tertinggal justru rasa lelah dan gelisah. Kita membaca satu berita, lalu berita lain menyusul. Bukan karena benar-benar membutuhkan informasi tersebut, tetapi karena ada dorongan untuk terus memperbarui situasi. Di titik ini, kita perlu jujur bahwa tidak semua konsumsi informasi berujung pada pemahaman. Sebagian hanya memperbesar rasa tidak aman.
Secara psikologis, manusia memang memiliki negativity bias, yaitu kecenderungan untuk lebih memperhatikan informasi negatif dibandingkan positif. Dalam ruang digital, kecenderungan ini diperkuat oleh algoritma yang dirancang untuk menampilkan konten dengan tingkat keterlibatan tinggi. Konten bernuansa ancaman, krisis, dan ketegangan sering kali memancing respons emosional yang lebih besar, sehingga lebih sering muncul di beranda.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap berita krisis di media sosial berkorelasi dengan peningkatan kecemasan (Olagoke et al., 2020). Studi lain juga menemukan bahwa jenis penggunaan media digital tertentu berkaitan dengan penurunan kesejahteraan psikologis pada generasi muda (Twenge & Farley, 2021). Artinya, bukan sekadar durasi penggunaan yang penting, tetapi juga kualitas dan konteks informasi yang dikonsumsi.
Ada ironi dalam doomscrolling. Kita merasa sedang mengontrol keadaan dengan terus mencari pembaruan. Padahal yang terjadi sering kali sebaliknya yaitu informasi yang mengontrol emosi kita. Semakin banyak kita membaca tanpa jeda refleksi, semakin mudah pikiran terasa penuh. Fokus akademik menurun. Diskusi menjadi emosional. Dunia terasa lebih gelap daripada realitas objektifnya.
Sebagai mahasiswa, kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. Lingkungan akademik menuntut kejernihan berpikir dan kemampuan memilah informasi secara rasional. Ketika ruang digital dipenuhi narasi krisis, kemampuan menjaga proporsionalitas justru menjadi bentuk kedewasaan intelektual. Tidak semua isu global memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari kita, tetapi intensitas paparan dapat membuatnya terasa seolah-olah ancaman tersebut sangat dekat.
Di tengah kebiasaan digital yang impulsif ini, Ramadhan menghadirkan latihan yang sangat relevan yaitu self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan dorongan dan respons diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi melatih kesadaran sebelum bertindak. Menunda kebutuhan biologis adalah bentuk penguatan kontrol diri. Dalam konteks digital, dorongan membuka aplikasi setiap beberapa menit juga merupakan impuls yang bisa diregulasi.
Ramadhan memberi ruang untuk memperlambat ritme. Tidak semua notifikasi harus dibuka saat itu juga. Tidak semua berita harus dibaca hingga tuntas. Tidak semua opini perlu langsung ditanggapi. Mengurangi doomscrolling bukan berarti tidak peduli pada dunia. Justru itu bentuk kepedulian yang lebih matang yaitu peduli tanpa kehilangan ketenangan.
Literasi digital dalam konteks ini bukan hanya kemampuan teknis mencari informasi, tetapi juga kemampuan menentukan batas konsumsi dan memahami dampaknya terhadap kondisi psikologis. Memilih untuk berhenti sejenak sebelum membaca berita berikutnya adalah bentuk kesadaran. Memutuskan untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi adalah bentuk tanggung jawab moral.
Ramadhan mengingatkan bahwa pengendalian diri tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang sering diabaikan. Dalam dunia yang penuh notifikasi, mungkin yang paling perlu kita latih bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan panik. Karena kejernihan berpikir adalah bentuk kendali diri yang paling relevan di tengah banjir informasi. (Milawati)
Dalam bulan Ramadhan ini, saat kita belajar untuk dapat menahan diri dari arus informasi yang tak berhenti, waktunya juga kita mulai menata masa depan pendidikan. Dengan bergabung bersama LeMondial Business School , dan nikmati pengalaman belajar yang fokus, serta siap membantu kamu tumbuh di era penuh distraksi
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proses pendaftaran di LeMondial Business School dapat menghubungi Email : admin@lemondial.ac.id atau isi Form pendaftaran berikut : https://thegenius.lemondial.ac.id/
Referensi
Allcott, H., Braghieri, L., Eichmeyer, S., & Gentzkow, M. (2020). The welfare effects of social media. American Economic Review, 110(3), 629–676.
Olagoke, A. A., Olagoke, O. O., & Hughes, A. M. (2020). Exposure to coronavirus news on social media and anxiety. Health Promotion Perspectives, 10(4), 331–336.
Twenge, J. M., & Farley, E. (2021). Not all screen time is created equal: Associations with mental health vary by activity and gender. Current Opinion in Psychology, 36, 47–52.
World Health Organization. (2022). Mental health and COVID-19: Early evidence of the pandemic’s impact. WHO.







