lemondial-business-school

Mengajarkan Puasa pada Anak. Tentang Kesiapan, Bukan Sekadar Usia

Kamis, 26 Februari 2026 | 15:06 WIB




Mengajarkan Puasa pada Anak

Setiap Ramadan, banyak orang tua dihadapkan pada pertanyaan yang sama yaitu kapan anak sebaiknya mulai berpuasa penuh?

Pertanyaan ini sering kali dikaitkan dengan usia. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa usia tujuh tahun adalah waktu yang tepat untuk mulai “memerintahkan” anak beribadah, merujuk pada hadis riwayat Abu Dawud tentang perintah salat pada usia tujuh tahun. Namun, dalam praktiknya, mendidik anak berpuasa tidak sesederhana menetapkan angka usia.

Puasa dan Kesiapan Anak

Puasa bukan hanya aktivitas menahan lapar dan haus. Ia melibatkan kesiapan fisik, kestabilan emosi, serta kemampuan anak dalam memahami makna ibadah itu sendiri. Pada usia sekolah dasar awal, anak masih berada pada fase perkembangan yang dinamis, baik secara biologis maupun psikologis.

Beberapa anak mungkin sudah mampu berpuasa penuh tanpa kendala berarti. Namun, sebagian lainnya masih membutuhkan proses adaptasi. Respons tubuh seperti mual, lemas, atau gangguan lambung bisa menjadi sinyal bahwa kesiapan fisiknya belum optimal.

Dalam konteks pendidikan, hal ini penting dipahami sebagai bagian dari prinsip diferensiasi bahwa setiap anak memiliki ritme tumbuh dan belajar yang berbeda.

Proses Pengenalan, Bukan Pemaksaan

Pendekatan yang lebih bijak adalah menjadikan puasa sebagai proses pembelajaran bertahap. Anak dapat mulai dengan berpuasa setengah hari, hingga waktu tertentu, atau secara bertahap menambah durasi sesuai kemampuannya.

Keterlibatan anak dalam sahur dan berbuka, diskusi ringan tentang makna Ramadan, serta pemberian apresiasi atas usaha mereka, dapat membangun pengalaman religius yang positif. Dengan demikian, ibadah tidak dipersepsikan sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Pendidikan agama pada anak usia dini seharusnya menekankan pembiasaan dan keteladanan, bukan tekanan. Ketika anak merasa didukung, bukan dipaksa, ia akan lebih mudah menumbuhkan kedekatan emosional dengan nilai-nilai spiritual.

Peran Orang Tua dan Lingkungan Pendidikan

Kampus sebagai institusi pendidikan memiliki peran dalam membangun kesadaran akan pentingnya pola asuh yang adaptif dan berbasis perkembangan anak. Diskusi tentang kesiapan anak beribadah dapat menjadi bagian dari literasi parenting yang terus dikembangkan.

Orang tua, pendidik, dan lingkungan sosial perlu memiliki perspektif yang sama bahwa tujuan utama bukan sekadar mencapai “puasa penuh” pada usia tertentu, melainkan menanamkan pemahaman dan kecintaan terhadap ibadah.

Setiap anak memiliki waktunya sendiri. Ada yang siap pada usia tujuh tahun, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Yang terpenting adalah memastikan proses tersebut berlangsung dalam suasana yang sehat, suportif, dan sesuai tahap perkembangannya.

Mengajarkan puasa pada anak sejatinya adalah tentang membangun fondasi karakter seperti disiplin, empati, kesabaran, dan pengendalian diri. Namun fondasi yang kuat dibangun secara bertahap, bukan dengan tergesa-gesa.

Usia memang dapat menjadi panduan, tetapi kesiapanlah yang menentukan keberhasilan prosesnya. Dengan pendekatan yang bijak dan penuh empati, Ramadan dapat menjadi momentum pendidikan karakter yang bermakna, baik di lingkungan keluarga maupun dalam ekosistem pendidikan yang lebih luas.