lemondial-business-school

Manajemen Bisnis di Era Video Commerce: Bagaimana Brand Bertahan di Tengah Lonjakan Transaksi Digital?

Selasa, 03 Maret 2026 | 11:54 WIB




Manajemen Bisnis di Era Video Commerce

Oleh: Dr Diyan Putranto, SE, MM Profesional STIMPAL (Lentera Mondial)

Bayangkan Anda sedang duduk di kafe, melihat seseorang berbicara antusias di depan layar ponselnya. Di sisi lain layar tersebut, ribuan orang menonton secara real-time, bertanya tentang tekstur kain sebuah produk, dan dalam hitungan detik, ratusan transaksi terjadi. Selamat datang di tahun 2026, di mana batas antara hiburan dan belanja telah sepenuhnya runtuh.

Di koridor kampus STIMPAL, kami sering mendiskusikan angka yang fantastis: Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menembus angka $130 Miliar. Namun, di balik angka tersebut, ada sebuah pertanyaan besar bagi para pelaku bisnis dan mahasiswa Manajemen: Bagaimana cara bertahan di tengah badai perubahan ini?

Ledakan Video Commerce: Revolusi Belanja yang Mengubah Psikologi Konsumen

Dunia bisnis tahun 2026 telah meninggalkan era "katalog statis". Jika kita menilik ke belakang, belanja online dulu adalah aktivitas yang sangat soliter dan terkadang membosankan. Kita hanya menatap layar, membaca ulasan yang mungkin palsu, dan berharap barang yang datang sesuai dengan foto. Namun, hari ini, Video Commerce telah mengubah segalanya. Ini adalah gabungan antara hiburan (entertainment) dan perdagangan (commerce) yang kita sebut sebagai Shoppertainment.

Mengapa video commerce begitu digdaya? Jawabannya ada pada aspek humanitas dan kepercayaan. Di era di mana AI bisa memalsukan banyak hal, konsumen merindukan interaksi asli. Saat seorang host melakukan siaran langsung atau mengunggah video pendek tentang sebuah produk, mereka tidak hanya menjual barang; mereka menjual bukti. Konsumen bisa melihat bagaimana sebuah kain jatuh di badan, bagaimana warna lipstik berubah di bawah cahaya alami, atau bagaimana sebuah alat logistik bekerja di lapangan.

Bagi kita di STIMPAL, fenomena ini adalah studi kasus manajemen yang luar biasa. Video commerce memaksa perusahaan untuk memiliki "wajah". Brand tidak lagi bisa bersembunyi di balik logo yang kaku. Perusahaan besar kini harus bertindak seperti kreator konten. Artinya, manajemen pemasaran harus berubah menjadi manajemen produksi konten. Ini melibatkan koordinasi cepat antara tim kreatif, tim stok barang (logistik), dan layanan pelanggan yang harus menjawab pertanyaan di kolom komentar secara instan. Jika Anda terlambat merespons tren video yang sedang viral dalam hitungan jam, Anda kehilangan momentum transaksi yang nilainya bisa mencapai miliaran Rupiah dalam satu malam. Inilah era di mana perhatian (attention) adalah mata uang yang paling berharga.

Membedah Proyeksi $130 Miliar: Navigasi di Lautan Ekonomi Digital Indonesia

Angka $130 Miliar bukanlah sekadar angka di atas kertas laporan tahunan Bank Dunia atau Kominfo. Ini adalah representasi dari pergeseran gaya hidup 280 juta penduduk Indonesia. Di tahun 2026, ekonomi digital telah menjadi tulang punggung, bukan lagi sekadar pendukung. Lonjakan transaksi ini dipicu oleh dua hal utama: infrastruktur internet yang semakin merata hingga ke pelosok desa wisata, dan adopsi sistem pembayaran digital yang kini sudah menyentuh level pedagang kaki lima.

Namun, di balik peluang emas ini, terdapat tantangan manajemen yang sangat kompleks. Banyak startup dan UKM terjebak dalam euforia angka tanpa memahami struktur biaya yang sehat. Di prodi Manajemen STIMPAL, kami membedah bahwa mengelola bisnis di tengah proyeksi $130 Miliar membutuhkan ketajaman Analisis Data. Kita tidak bisa lagi menggunakan insting "kira-kira". Manajemen bisnis modern harus mampu membaca algoritma. Mengapa produk A lebih laku di wilayah Indonesia Timur melalui video pendek, sementara produk B lebih laku di Jawa melalui siaran langsung tengah malam?

Manajemen masa depan adalah tentang presisi. Dengan volume transaksi yang masif, kesalahan kecil dalam manajemen stok atau keterlambatan pengiriman dalam rantai logistik akan berdampak domino pada reputasi digital sebuah brand. Ekonomi digital 2026 sangat kejam terhadap ketidakefisienan. Namun, bagi mereka yang mampu mengintegrasikan manajemen operasional yang rapi dengan strategi pemasaran digital yang agresif, angka $130 Miliar ini adalah pintu menuju kemakmuran jangka panjang. Kita harus melihat Indonesia bukan sebagai satu pasar tunggal, melainkan ribuan pasar mikro yang dihubungkan oleh kabel serat optik dan sinyal satelit.

Kepemimpinan Agile: Menjadi Pemimpin yang Lincah di Tengah Ketidakpastian

Jika ada satu kata yang paling sering saya gaungkan di ruang kelas STIMPAL, kata itu adalah Agile. Di tahun 2026, model kepemimpinan "perintah dan kontrol" sudah dianggap kuno dan berbahaya. Mengapa? Karena perubahan terjadi terlalu cepat. Seorang CEO atau Manajer yang mencoba mengontrol setiap detail keputusan akan menjadi leher botol (bottleneck) bagi kemajuan perusahaannya sendiri.

Kepemimpinan Agile adalah tentang memberikan otonomi kepada tim. Bayangkan sebuah tim manajemen startup yang sedang menghadapi krisis komunikasi di media sosial. Pemimpin agile tidak akan menunggu rapat direksi minggu depan untuk mengambil keputusan. Mereka telah membekali timnya dengan panduan etika dan visi yang jelas, sehingga tim di lapangan bisa mengambil tindakan dalam hitungan menit. Pemimpin masa depan adalah seorang fasilitator, bukan diktator.

Di era video commerce, kepemimpinan agile berarti siap untuk gagal dengan cepat dan belajar lebih cepat (fail fast, learn faster). Eksperimen adalah menu harian. Apakah format video ini berhasil? Jika tidak, ganti dalam waktu dua jam. Apakah strategi diskon ini efektif? Jika tidak, ubah dalam hitungan detik. Kelincahan ini hanya bisa terjadi jika ada budaya kepercayaan antara atasan dan bawahan. Di STIMPAL, kami melatih mahasiswa manajemen untuk memiliki mentalitas ini—mentalitas yang tidak takut pada perubahan, melainkan merangkul perubahan sebagai satu-satunya kepastian dalam bisnis digital.

Manajemen Hybrid: Menyatukan Potensi Tanpa Terikat Ruang Kantor

Tantangan terakhir yang paling nyata di tahun 2026 adalah bagaimana mengelola manusia. Era di mana semua karyawan harus duduk di kantor dari jam 8 pagi hingga 5 sore telah berakhir. Namun, Manajemen Hybrid membawa dilema baru: bagaimana menjaga koordinasi tetap sinkron ketika tim operasional logistik berada di pelabuhan, tim kreatif bekerja dari kafe di Bali, dan tim administrasi atau sekretaris bekerja dari rumah masing-masing?

Kunci dari manajemen hybrid yang sukses adalah Infrastruktur Komunikasi dan Empati. Kita tidak bisa lagi mengukur kinerja karyawan dari berapa lama mereka duduk di kursi kantor. Manajer masa depan harus fokus pada Objective and Key Results (OKR). Selama target tercapai dan kualitas kerja terjaga, di mana pun mereka berada tidak lagi menjadi masalah. Namun, manajemen hybrid membutuhkan sistem dokumentasi yang luar biasa rapi. Di sinilah peran prodi Sekretaris dan Manajemen di STIMPAL menjadi krusial; kami mengajarkan bagaimana mengelola alur kerja digital agar tidak ada informasi yang terselip.

Selain teknologi, ada aspek manusia yang tidak boleh dilupakan: Kesehatan Mental. Bekerja secara hybrid seringkali membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur. Manajer yang hebat di tahun 2026 adalah mereka yang mampu mendeteksi kejenuhan (burnout) timnya meskipun hanya lewat layar monitor. Mereka adalah pemimpin yang mampu menciptakan "ruang batin" yang nyaman bagi timnya untuk tetap kreatif dan produktif tanpa merasa diawasi seperti di penjara digital. Manajemen hybrid adalah seni menyeimbangkan produktivitas tinggi dengan kesejahteraan manusiawi.

Penutup: STIMPAL sebagai Kawah Candradimuka Bisnis Digital

Melalui artikel panjang ini, saya ingin menyampaikan bahwa dunia bisnis Indonesia 2026 adalah dunia yang penuh dengan warna, kecepatan, dan peluang. Namun, ia hanya akan ramah pada mereka yang mau terus belajar. Di STIMPAL (Lentera Mondial), kami berkomitmen untuk tidak hanya memberikan ijazah, tetapi memberikan "senjata" berupa pemikiran kritis, kemampuan adaptasi, dan penguasaan teknologi.

Mari kita hadapi angka $130 Miliar itu bukan dengan rasa takut, tapi dengan kesiapan manajemen yang matang. Mari kita pimpin tim kita dengan kelincahan, dan mari kita bangun bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara digital, tapi juga memberikan manfaat nyata bagi kemajuan bangsa.

Dengan melalui Program Studi Manajemen di LeMondial Business School,  kita akan belajar bagaimana menyusun strategi bisnis, cara mengelola pemasaran digital , juga memahami perilaku konsumen di tengah maraknya pemasaran digital. 

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proses pendaftaran di LeMondial Business School dapat menghubungi Email : admin@lemondial.ac.id atau isi Form pendaftaran berikut : https://thegenius.lemondial.ac.id/